05/06/15

Satu Tahun Wafatnya KH. Abdul Hamid Baidhowi

Hari kamis sore kemarin bertepatan dengan tanggal 17 Sya'ban 1436 merupakan satu tahun wafatnya KH. Abdul Hamid Baidhowi. Rangkaian acara sudah dimulai sejak hari Rabu malam setelah maghrib, yaitu khataman bin nadhar oleh para santri dan umum di Musholla pesantren. Dilanjut Kamis pagi pukul 08.00 sampai dengan jam 13.00 pembacaan al-Quran 30 juz sekaligus khataman di ndalem depan (dulu ndalem almarhumah Ny. Hj. Fahimah istri KH. Maimoen Zubair).

Disamping itu juga telah diadakan temu alumni perdana santri putra Pondok Pesantren Alwahdah yang salah satu keputusan majlis reuni adalah; temu alumni akan diselenggarakan tiap tahun pada tanggal 15 Syawal bertepatan dengan haul simbah KH. Baidhowi. Bagi para alumni untuk bisa mensosialisasikan keputusan tersebut kepada para alumni lainnya.

Sedangkan puncak acara dimulai pada pukul 15.45 yang dihadiri para masyayih, masyarakat sekitar, para alumni dan pejabat setempat termasuk Bupati Rembang H. Abdul Hafidz. Acara diawali dengan pembacaan surat Yasin yang dipimpin Kyai Imam Shofwan. Dilanjut tahlil oleh Kyai Abdullah Ubab Maimoen dan taushiah sekaligus doa penutup oleh Kyai Najih Maimoen dari Sarang.

Dalam taushiahnya, Gus Najih (sapaan akrab beliau) menuturkan bahwa menjadi pejuang islam harus لا خوف عليهم  ولا هم يخزنون dan itulah sifat yang melekat dan kita dapati pada diri Kyai Abdul Hamid Baidhowi.

Semoga kita bisa mengambil banyak hal dan ibrah dari sosok almarhum. Dan keteladanan beliau mampu menginspirasi kita semua untuk terus berjuang mencari ridho Allah SWT dan Rasul-Nya.


14/05/15

HALAQAH DAN SILATURRAHIM ALUMNI SAYYID MUHAMMAD AL-MALIKI DI PONDOK PESANTREN AL-WAHDAH



Hari selasa yang lalu, tepatnya pada tanggal 12 Mei 2015 keluarga besar Pondok Pesantren Al-Wahdah telah sukses menggelar acara halaqah/dialog interaktif dengan tema tentang Kelompok Syiah dan ISIS dengan narasumber KH. Najih Maimoen dari Sarang. Acara ini digagas dalam rangka pertemuan alumni Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki yang diadakan setiap 4 bulan sekali untuk wilayah cabang Sarang yang meliputi: Rembang, Semarang, Demak, Kudus, Jepara, Blora, Kendal, Purwodadi dan Pati. Tidak kurang 30 alumni Mekkah berkumpul dan dihadiri kurang lebih 200 peserta dari berbagai elemen, pejabat, tokoh masyarakat, perwakilan pesantren dan umum.
Acara dibuka pukul 14.00, diawali dengan pembacaan maulid dan tahlil. Doa tahlil dipimpin oleh Syeh Faris Al-Bur'i al-Yamani yang hadir dari Yaman. Kemudian  dilanjut dengan presentasi narasumber dan disusul dengan sesi tanya-jawab.

Semoga kegiatan semacam terus ada dan berkelanjutan sebagai bentuk penjagaan kita terhadap aqidah-aqidah nyleneh yang makin marak di tengah-tengah masyarakat kita. Insyaallah guru-guru dan para ulama kita ridho dengan gelaran acara semacam ini. Karena mengingat kelompok-kelompok mereka pun tidak berhenti menyebarkan keyakinan dan ajaran mereka, seperti yang terjadi pada jam dan hari yang sama dengan acara halaqah di atas. Yaitu seminar dengan tema "Titik temu Syiah Sunni" di salah satu kampus islam negeri di Pirwokerto. Acara ini digagas oleh kelompok Syiah ABI (Ahlu Bait Indonesia) dan kelompok Gusdurian. Masih menganggap gerakan mereka semu atau abu-abu?


26/12/13

Sosok Tegas Berhati Lembut : In Memorium Mbah Hamid Baidhowi

Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un...

Wafatnya Kyai Hamid Baidhowi begitu mengejutkan, selang 3 hari dirawat di RS Keluarga Sehat Hospital (KSH) beliau dipanggil Allah Ta'ala dalam usia sekitar 70 tahun. Semenjak kelelahan dari acara haflah di Pondok Ploso Kediri disambung dengan kabar wafatnya Mbah Idris Lirboyo, kondisi beliau semakin melemah. Dalam keadaan sayah
beliau sempat bercerita jika dulu pernah satu pondok dengan Mbah idris di Sarang, bahkan pernah nunut cikar dari Sarang menuju Lasem bersama. Banyak kenangan dan perjuangan yang beliau rasakan bersama Mbah Idris Marzuqi. Dan genap 7 hari setelah Mbah Idris wafat, beliau menyusul sowan kepada Allah SWT pemilik alam raya. Tepat hari Ahad Kliwon tanggal 17 Sya'ban 1435 hijriyah pukul 14.50 WIB beliau menghembuskan nafas terakhir, bertepatan dengan pertemuan keluarga besar KH. Baidhowi bin Abdul Aziz di Pondok al-Fakhriyah Lasem yang dihadiri sanak saudara dari jauh yang diadakan 2 tahun sekali. Ini bukan sebuah kebetulan, tapi ini ketentuan Allah SWT dan terdapat pesan dan hikmah di balik semuanya. Karena memang beliau dikenal "rahmah" khususnya pada sanak kerabat. Bahkan tepat ketika beliau wafatpun tidak merepotkan saudara lainnya karena mereka sudah berkumpul di Lasem.


Dalam urusan aqidah, beliau dikenal tegas dalam memegang prinsip agama. Hal ini bisa kita lihat pada beberapa kitab karangan beliau seperti kitab "Tabshirah" yang berkenaan dengan kelompok Syiah dan kelompok nyleneh lainnya. Begitupun dengan di berbagai kesempatan beliau banyak dawuh di tiap ceramahnya tentang pentingnya menjaga aqidah dari kelompok-kelompok yang tidak sejalan dengan aqidah ahlus sunnah wal jamaah. Dan 20 hari sebelum beliau wafat memberi ceramah dan orasi dalam pertemuan Aliansi anti syiah di Bandung dan ditunjuk sebagai Majlis Dewan Syuro.

Pada tiap pesan yang beliau sampaikan melalui mimbar-mimbar ceramah beliau terkesan garang dan tegas, namun dalam kesehariannya sama sekali jauh dari perilaku galak ataupun menakutkan. Diceritakan dari para santri yang pernah mondok di Pondok Al-Wahdah  bahwa beliau tidak pernah marah kepada para santri. Bahkan berkata keras pada putra-putri beliau pun tidak pernah. Suatu haru diceritakan ada beberapa santri main kartu di pondok, jika kalah akan diolesi arang. Tak disangka Mbah Hamid memergoki mereka, bukannya marah-marah beliau malah dawuh begini: "Wah..nek ono telo godog'e tambah enak kang...". Spontan santri tersebut menjadi malu bukan kepalang dan mengakhiri permainan dengan perasaan tidak menentu.


07/10/13

Kyai Dalhar Watucongol Magelang

Mbah Kiai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H (12 Januari 1870 M). Ketika lahir ia diberi nama oleh ayahnya dengan nama Nahrowi. Ayahnya adalah seorang mudda’i ilallah bernama Abdurrahman bin Abdurrauf bin Hasan Tuqo.

Kiai Abdurrauf adalah salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro. Nasab Kiai Hasan Tuqo sendiri sampai kepada Sunan Amangkurat Mas atau Amangkurat III. Oleh karenanya sebagai keturunan raja, Kiai Hasan Tuqo juga mempunyai nama lain dengan sebutan Raden Bagus Kemuning.

Diriwayatkan, Kiai Hasan Tuqo keluar dari komplek keraton karena ia lebih senang mempelajari ilmu agama daripada hidup dalam kepriyayian. Belakangan waktu baru diketahui jika ia hidup menyepi didaerah Godean, Yogyakarta. Sekarang desa tempat ia tinggal dikenal dengan nama desa Tetuko. Sementara itu salah seorang puteranya bernama Abdurrauf juga mengikuti jejak ayahnya yaitu senang mengkaji ilmu agama. Namun ketika Pangeran Diponegoro membutuhkan kemampuan beliau untuk bersama – sama memerangi penjajah Belanda, Abdurrauf tergerak hatinya untuk membantu sang Pangeran.

Dalam gerilyanya, pasukan Pangeran Diponegoro sempat mempertahankan wilayah Magelang dari penjajahan secara habis–habisan. Karena Magelang bagi pandangan militer Belanda nilainya amat strategis untuk penguasaan teritori lintas Kedu. Oleh karenanya, Pangeran Diponegoro membutuhkan figure–figure yang dapat membantu perjuangannya melawan Belanda sekaligus dapat menguatkan ruhul jihad di masyarakat.

Menilik dari kelebihan yang dimilikinya serta beratnya perjuangan waktu itu maka diputuskanlah agar Abdurrauf diserahi tugas untuk mempertahankan serta menjaga wilayah Muntilan dan sekitarnya. Untuk ini Abdurrauf kemudian tinggal di dukuh Tempur, Desa Gunung Pring, Kecamatan Muntilan. Beliau lalu membangun sebuah pesantren sehingga masyhurlah namanya menjadi Kiai Abdurrauf.

Pesantren Kiai Abdurrauf ini dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdurrahman. Namun letaknya bergeser ke sebelah utara ditempat yang sekarang dikenal dengan dukuh Santren (masih dalam desa Gunung Pring). Sementara ketika masa dewasa mbah Kiai Dalhar, beliau juga meneruskan pesantren ayahnya (Kiai Abdurrahman) hanya saja letaknya juga digeser kearah sebelah barat ditempat yang sekarang bernama Watu Congol.

Nama “Dalhar”

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang yang dilahirkan dalam ruang lingkup kehidupan pesantren. Oleh karenanya semenjak kecil beliau telah diarahkan oleh ayahnya untuk senantiasa mencintai ilmu agama. Pada masa kanak-kanaknya, ia belajar Al-Qur’an dan beberapa dasar ilmu keagamaan pada ayahnya sendiri yaitu Kiai Abdurrahman. Menginjak usia 13 tahun, mbah Kiai Dalhar mulia belajar mondok. Ia dititipkan oleh sang ayah pada Mbah Kiai Mad Ushul (begitu sebutan masyhurnya) di Dukuh Mbawang, Desa Ngadirejo, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Disini ia belajar ilmu tauhid selama kurang lebih 2 tahun.

Sesudah dari Salaman, saat ia berusia 15 tahun mbah Kiai Dalhar dibawa oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu, Kebumen. Oleh ayahnya, mbah Kiai Dalhar diserahkan pendidikannya pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang ma’ruf dengan laqobnya Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Delapan tahun mbah Kiai Dalhar belajar di pesantren ini. Dan selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh. Itu terjadi karena atas dasar permintaan ayahnya sendiri pada Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani.

Kurang lebih pada tahun 1314 H/1896 M, mbah Kiai Dalhar diminta oleh gurunya yaitu Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera laki – laki tertuanya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani thalabul ilmi ke Makkah Musyarrafah. Dalam kejadian bersejarah ini ada kisah menarik yang perlu disuri tauladani atas ketaatan dan keta’dziman mbah Kiai Dalhar pada gurunya.

Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani punya keinginan menyerahkan pendidikan puteranya yang bernama Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani kepada shahabat karibnya yang berada di Makkah dan menjadi mufti syafi’iyyah waktu itu bernama Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani (ayah Syeikh As_Sayid Muhammad Sa’id Babashol Al-Hasani). Sayid Abdurrahman Al-Hasani bersama mbah Kiai Dalhar berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang.

Dikisahkan selama perjalanan dari Kebumen, singgah di Muntilan dan kemudian lanjut sampai di Semarang, saking ta’dzimnya mbah Kiai Dalhar kepada putera gurunya, beliau memilih tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid Abdurrahman. Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kiai Dalhar agar naik kuda bersama. Namun itulah sikap yang diambil oleh sosok mbah Kiai Dalhar.

Sesampainya di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kiai Dalhar dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri tinggal) Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena ia diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu. Sementara itu mbah Kiai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.

Syeikh As-Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang kemudian memberi nama “Dalhar” pada mbah Kiai Dalhar. Hingga ahirnya ia memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama aslinya. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt, mbah Kiai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kiai “Dalhar”.

Ketika berada di Hejaz inilah Kiai Nahrowi Dalhar memperoleh ijazah kemusrsyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoerat dari Sayid Muhammad Amin Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian amaliah rutin yang memasyhurkan namanya di tanah Jawa.


Hizb Bambu Runcing

Mbah Kiai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan riyadhah. Selama di tanah suci, mbah Kiai Dalhar pernah melakukan khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3 buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk medoakan para keturunan beliau serta para santri – santrinya. Dalam hal adab selama ditanah suci, mbah Kiai Dalhar tidak pernah buang air kecil ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil hajat, ia lari keluar tanah Haram.

Setelah pulang dari tanah suci, sekitar tahun 1900 M ia kemudian meneruskan perdikan peninggalan nenek moyangnya yang berupa pondok kecil di kaki bukit kecil Gunung Pring, Watu  Congol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang. Kurang lebih 3 kilometer sebelah timur Candi Borobudur. Pondok pesantren kecil ini lambat laun tidak hanya dihuni oleh santri-santri sekitar eks Karsidenan Kedu saja namun sampai pelosok tanah Jawa.

Bahkan ketika masa-masa perang pra dan masa kemerdekaan, pondok pesantren Watucongol menjadi markas dan sekaligus tempat singgah para pejuang tentara bambu runcing yang datang Jogjakarta dan wilayah Jawa bagian barat seperti eks Karsidenan Banyumas dan sebagian dari Jawa Barat. Konon ceritanya, bambu runcing para pejuang harus di asma hizb dahulu oleh KH Dalhar dan KH Subekhi (Parak, Temanggung) sebelum menyerang markas penjajah Belanda di Ambarawa, Semarang, (lihat buku: Jejak Kaki Persantren, karya KH Saifuddin Zuhri).

Dikisahkan, dengan bermodalkan bambu runcing, para pejuang kemerdekaan menyerang benteng Belanda di Ambarawa, bambu-bambu runcing mampu terbang dengan sendirinya bak senapan menyerang tentara-tentara Belanda. Sementara bombardir peluru serta granat tangan kumpeni Belanda tidak mampu melukai apalagi menyentuh kulit para pejuang Republik Indonesia.        

Karya mbah Kiai Dalhar yang sementara ini dikenal dan telah beredar secara umum adalah Kitab Tanwirul Ma’ani. Sebuah karya tulis berbahasa Arab tentang manaqib Syeikh As-Sayid Abu Hasan ‘Ali bin Abdillah bin Abdil Jabbar As-Syadzili Al-Hasani, imam thariqah As-Syadziliyyah.

Banyak sekali tokoh – tokoh ulama terkenal negara ini yang sempat berguru kepadanya semenjak sekitar tahun 1920 – 1959. Diantaranya adalah KH Mahrus, Lirboyo ; KH Dimyathi, Banten ; KH Marzuki, Giriloyo dll. Sesudah mengalami sakit selama kurang lebih 3 tahun, Mbah Kiai Dalhar wafat pada hari Rabu Pon, 29 Ramadhan 1890 – Jimakir (1378 H) atau bertepatan dengan 8 April 1959 M dan beliau kemudian di makamkan di komplek makam Gunung Pring, Watucongol, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Sekalipun jasadnya telah terkubur dalam tanah, karya dan penerus perjuangan Mbah Dalhar tetap berkelanjutan sampai sekarang. Pondok Pesantren Darussalam, Watu Congol adalah saksi sejarah napak tilas perjuangan dakwah Mbah Dalhar. Jalan menuju makam Watucongol memang terbilang mudah. Peziarah ruhani biasanya melengkapi ziarah Wali Songo atau wisata liburan dengan melewati jalur tengah yang menghubungkan jalan utama dari Jogjakarta menuju Semarang. Ketika melewati kota Muntilan, dari arah pasar Muntilan cukup sekitar 5 kilo ke sebelah barat menunuju kawasan Gunung Pring.

Untuk memperingati jejak sejarah Mbah Dalhar dan Pesantren Darusalam Watu Congol Muntilan, setiap akhir bulan Sya’ban tahun Hijriah biasanya haulnya diperingati di kompleks Pesantren Darussalam Watucongol, dan Kompleks makam Gunung Pring Muntilan Magelang. Dipastikan kedua kompleks perdikan bersejarah itu tak pernah sepi oleh penziarah yang datang tidak saja dari penjuru Nusantara namun juga negeri mancanegara.

09/07/13

Jadwal Pengajian Kitab Posonan 1434 H


Jadwal ngaji posonan PP. Al-wahdah Ramadhan 1434 H

1. Ba'dal ashr: "Tarikh Khulafa' ar-rasyidin" (As-syeikh Abdul Hamid Baidhowi).
2. Ba'dal maghrib: Pengajian al-Qur'an.
3. Ba'dat tarawih: "at-Tahliyyah wat targhib fit tarbiyyah wat tadzhib".
4. Jam 22.00: "Qawa'id al-asasiyah fi ulumil quran".
5. Ba'da shubuh: "Risalatu al-Mudzakarah".
6. Jam 10 pagi: "Tafsir surat Yasin" dan "Nasha'ih al-ibad".
7. Jam 10 pagi (Khusus ibu2 dan remaja putri): Tafsir ibriz dan Lubabul Hadist.
8. Ba'da Dhuhur jam 2: Risalah al-mustarsyidin.
9. Ba'da dhuhur: Qishoh al-mi'raj dan matan taqrib.

نهنئكم بحلول شهر رمضان

نسأل ﺍﻟﻠﻪ ﻟﻜﻢ ﻓﻰ ﺷﻬﺮ ﺭﻣﻀﺎﻥ
ﺃﻥ ﻳﺠﻌﻞ....
ﺑﺴﻤﺘﻜﻢ ﺳﻌﺎﺩﺓ

ﻭﺻﻤﺘﻜﻢ ﻋﺒﺎﺩﺓ
ﻭﺧﺎﺗﻤﺘﻜﻢ ﺷﻬﺎﺩﺓ

ﻭﺭﺯﻗﻜﻢ ﻓﻰ ﺯﻳﺎﺩﺓ. أميــــــــــــــــــن

Keluarga Besar PP. al-Wahdah Kerawuhan Tamu Dari Mekkah: Asy-syaikh Muhammad bin Ismail bin Usman bin Zein asy-Syafi'i


Tepat pada hari selasa 2 Juli 2013 yang lalu, PP. Al-Wahdah kerawuhan tamu Syeikh Muhammad bin Ismail al-Makki asy-Syafi'i. Kedatangan beliau ke Indonesia tidak lain adalah sebagai bentuk tanggung jawab beliau dalam mengemban dan menyebar luaskan dakwah. Kunjungan beliau di awali dari Jawa timur. Di antaranya di Madura, Jember, Lumajang, Langitan, Gresik, dan Tanggir dekat Bojonegoro. Berlanjut safari beliau ke Jateng mulai di Blora, Rembang, Sarang, Lasem, Klambu Grobogan dan terakhir di majlis Habib Umar di Semarang.

(bersambung)

08/06/13

Kyai Muhaimin bin Abdul Aziz bin Baidhowi I Lasem

Adalah A. Muhaimin , lahir di Lasem Kab. Rembang Jawa Tengah pada 1890 M dari ayah Kiai Abdul Aziz dan ibu Mukminah binti Mahali. Ia adalah menantu Kiai Chasbullah, ayah KH Wahab Chasbullah. Setelah isteri pertamanya wafat, ia diambil menantu oleh Hadratusysyaikh Hasyim Asy’ari Tebuireng, dinikahkan dengan putrinya, Nyai Khoiriyyah Hasyim. Kiai Muhaimin memulai pendidikan dini agama dengan ayahnya, Kiai Abdul Aziz. Kemudian masa remaja belajar ke Kiai Umar Pondok Pesantren Sarang bersama kedua adiknya antara lain Suyuthi. Ia kemudian Kiai Muhaimin melanjutkan belajar ke Kiai Chasbullah Tambakberas Jombang sambil mengajar. Akhirnya ia diambil menantu oleh Kiai Chasbullah, dan kehadirannya pun mewarnai proses belajar mengajar di pesantren tersebut, menjadi sangat ramai dibanjiri santri, memberi berkah tersendiri. Berita ramainya Pondok Pesantren Tambakberas membuat Kiai Hasyim Asy’ari terkesan, kemudian meniru mengambil menantu dari pantai utara untuk putrinya Khairiyyah dinikahkan dengan Kiai Maksum bin Ali, keluarga Pesantren Maskumambang, Desa Dukun Kab. Gresik, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Kiai Maksum Ali, Kwaron, pengarang Kitab Shorof Al-Amtsilatut Tashrifiyyah yang menjadi buku pegangan wajib di sebagian besar pondok pesantren, diterbitkan pertama kali di Timur Tengah. Kiai Maksum adalah kakak kandung Kiai Adlan Ali Cukir Jombang di tahun 80an Rois ‘Am Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al- Mu’tabaroh An-Nahdliyyah. Tahun 1923 istri Kiai Muhaimin, kakak kandung dari KH Wahab Chasbullah wafat, tidak dikaruniai keturunan. Kemudian Kiai Muhaimin langsung mukim di Makkah. Pertama kali menginjakkan Makkah sudah dikenal alim. Sempat belajar memperdalam lagi kepada adik Kiai Ahmad Dahlan Yogyakarta. Di saat bersamaan Kiai Maksum suami Nyai Khairiyyah wafat. Dikarunia keturunan antara lain Nyai Abidah suami Kiai Mahfud Ahli Falakiyah berputra antara lain H.Hakim, lainnya Nyai Jamilah berputra antara lain Dr. Umar Faruq. Menikah dengan Nyai Khairiyah Hubungan ta’aruf Kiai Muhaimin-Nyai Khairiyyah dimulai dari kegiatan surat menyurat. Saat itu usia Nyai Khairiyyah 17 tahun setelah ditinggal wafat Kiai Ma’shum Kwaron suami pertama. Kiai Muhaimin dari Makkah berkirim surat isinya menanyakan kesediaan Nyai Khairiyyah menjadi istrinya. Saking bingungnya tidak terasa membaca surat itu sambil berjalan dari Tebuireng sampai Kantor Kecamatan Diwek. Kemudian dijawab Nyai Khairiyyah, menanyakan keberadaan istri pertama Kiai Muhaimin. Langsung dijawab dengan mengirim surat keterangan kematian istrinya. Tidak beberapa lama Kiai Muhaimin mengutus Kiai Bishri Syansuri menyatakan keinginannya kepada KH Hasyim Asy’ari. Lalu memanggil Nyai Khairiyyah, menjadi heran kok sudah saling kenal. Kemudian Kiai Bishri sambil tersenyum-senyum menerangkan bahwa keduanya sebelumnya sudah surat-suratan. Kiai Hasyim Asy’ari kemudian bersikukuh agar anaknya menikah dengan Kiai Muhaimin. Untuk maksud itu Oktober 1928 Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah, dan Kiai Bishri Syansuri ke Sarang, Kab.Rembang. Selanjutnya pihak keluarga mengutus Kiai Ahmad bin Syueb Sarang (seusia Kiai Muhaimin) agar mengikuti musyawarah dan memutuskan syarat Nyai Khairiyyah untuk menikah dengan Kiai Muhaimin harus dibawa ke Makkah. Aqdun Nikah dilaksanakan di Pondok Pesantren Al- Wahdah Lasem yang diasuh Kiai Baidlowi bertindak mewakili keluarga, karena Kiai Abdul Aziz sudah wafat. Kiai Bishri Syansuri mewakili Kiai Muhaimin. Akhirnya resmilah Nyai Khairiyyah menjadi istri Kiai Muhaimin diantar ke Mekkah oleh adiknya, Kiai Abdul Karim Hasyim. Adapun putrinya, Abidah 13 tahun dan Jamilah 8 tahun tidak ikut ke Makkah, namun Ikut kakeknya, KH Hasyim Asy’ari di bawah asuhan beliau di Tebuireng. Dalam kehidupan rumah tangga, Kiai Muhaimin memberikan Nyai Khairiyyah keleluasaan uang belanja kebutuhan sehari-hari, karena memahami harga sembako sewaktu-waktu bisa berubah. Hal ini sangat melegakan hatinya, seperti pernah diceritakan kepada ponakannya, Pak Muhsin. Bahkan Kiai Muhaimin menyediakan uang dalam lemari. Apabila kurang, ia mempersilahkan istrinya mengambil uang di lemari satunya lagi. Selamatkan Kitab Madzhab Syafi’i Kiai Muhaimin tercatat salah seorang pengajar di Masjidil Haram. Menunjukkan otoritas keilmuannya diakui. Dia antara muridnya, Kiai Umar Blora, Makkah. Di Makkah Kiai Muhaimin pernah memimpin Darul Ulum, pusat dakwah dan pendidikan (madrasah atau jam’iah) berhaluan Ahlus Sunnah Wal Jamaah sebagai Rois Jam’iyyah. Termasuk pengajar atau guru besarnya antara lain Sayid Ali Al-Maliki Mufti Makkah. Pada mulanya Madrasah Darul Ulum didirikan oleh Sayid Muchsin Musana Palembang pada tahun 1927. Sepeninggal Kiai Muhaimin, Mudir Darul Ulum dipimpin oleh Syaikh Yasin Al- Padani, seorang ulama besar Makkah yang terutama sejak tahun 80’an sampai akhir hidupnya amat terkenal dan disegani menjadi rujukan hukum dan sumber restu ulama NU di Indonesia. Untuk membedakan 2 nama Yasin, Kiai Muhaimin memberi nama 1. Syaikh Yasin (Al Padani), 2. Ustadz Yasin (Palembang). Dalam riwayat yang masyhur, memang guru Syaikh Yasin Al Padani antara lain :1. Kiai Ma’shoem Lasem, 2. Kiai Baidlowi Lasem. Di antara murid di Madrasah Darul Ulum Makkah masa dipimpin Syaikh Yasin adalah Syaikh Mur’i, kini Mudir Universitas Darul Ulum, Hudaidah, Yaman. Yang banyak memberi beasiswa mahasiswa asal Indonesia. Lulusan Darul Ulum Makkah yang diasuh Kiai Muhaimin banyak yang menjadi ulama besar. Tersebar di Makkah, Indonesia dan Yaman yang memerlukan keuletan melacaknya, karena mereka berdomisili di berbagai Negara. Termasuk Kiai Basyuni ayah mantan Menteri Agama RI dan Kiai Dahlan Makkah asal Kediri. KH.Maimun Zubair Pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang mengaku alumni Darul Ulum waktu belajar di Makkah, masuk tahun 1950, disampaikan saat ceramah walimah pernikahan di rumah KH.A.Rozzaq Imam Bonang Lasem besanan dengan Kiai Siraj Makkah. Menjadi menantu Kiai Baidlowi dari Nyai Fahimah putrinya, dikaruniai anak antara lain Gus Ubab dan Gus Najih. Ayahnya, Kiai Zubair lahir tahun 1885. Leluhurnya Buju’ Su’ud Desa Klampis Arosbaya Bangkalan Madura. Bukan yang Bindere Su’ud di Sumenep. Sayang dalam perjalanannya kemudian Darul Ulum yang didirikan dengan susah payah penuh suka duka oleh Kiai Muhaimin dan dilanjutkan oleh Syaikh Yasin Al-Padani, kelahiran tahun 1335 Hijriah, setelah kepemimpinan mereka mungkin karena pengelolaannya kurang terurus, menjadi tidak berkembang dan maju, sehingga diambil alih oleh Pemerintah Saudi Arabia dari Dinasti Su’udiyyah yang beraliran Wahabi, termasuk mengambil alih perpustakaannya yang memiliki banyak koleksi kitab-kitab penting. Darul Ulum pun turun drastis kompetensi keilmuannya, mengikuti persamaan tingkat dasar. Berubah menjadi sekolah umum (kurikulum nasional), mulai dari tingkat MTs sampai jenjang berikutnya. Seperti halnya Ash-Sholatiyyah meski tetap dipegang swasta. Begitu juga Al-Falah, namun dikelola masyarakat Arab di Makkah. Menurut Syaikh Shodiq bin Muhammad bin Hasan Asy’ari ahli sejarah murid Syaikh Yasin Al-Padani seperti juga Kiai Hasan Iraqi Sampang saat hidup Kiai Muhaimin masih berusia 9 tahunan, Kiai Muhaimin salah satu ulama besar Makkah asal Jawa terkenal alim. Menurut Kiai Maimun Zuber, sebagai contoh barometer kefaqihan Kiai Muhaimin adalah kemampuannya mendirikan dan memimpin Raudlatul Munadzirin, suatu lembaga bahtsul masail satu-satunya yang paling prestisius di kalangan ulama Makkah, pesertanya terutama diikuti semua ulama asal Asia Tenggara seperti Indonesia, Campa, Patani, Mindanao dan Malaya. Diantara anggotanya, Kiai Zubair, ayah KH.Maemun Zubair. Keputusan bahtsul masail Raudlatul Munadzirin memiliki bobot inlektualitas keagamaan yang tidak diragukan. Kumpulan keputusan bahtsul masail Raudlatul Munadzirin yang telah ditashih oleh Kiai Muhaimin selaku Pimpinan Darul Ulum menjadi ensiklopedi hukum ijma’ yang tidak ternilai. Seperti yang pernah disampaikan oleh seorang narasumber dalam sebuah halaqah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Raudlatuth Tholibin, Leteh, Rembang, pimpinan KH Musthofa Bishri atau Gus Mus. Namun sangat disayangkan, koleksi kitab karya Kiai Muhaimin selama hidupnya memimpin Darul Ulum termasuk Raudlatul Munadzirin, hingga sekarang belum ditemukan. Di Makkah, Kiai Muhaimin pernah menulis risalah tentang bedug dan kentongan menurutnya perlu dipertahankan. Sayyid Ali Mufti Makkah saat itu awalnya sempat marah membaca sekilas risalah tersebut, karena menganggapnya bid’ah. Risalah tersebut berdasarkan sumber Al-Quran, Al-Hadits dan Kaidah Ushul Fiqh yangh jelas. Kiai Muhaimin juga menguraikan latar belakang filsafat Jawa, bahwa bedug ditabuh di masjid berbunyi deng..deng pertanda ruangan masjid masih cukup untuk sholat berjamaah, kentongan dipukul di musholla berbunyi tong..tong…memberi isyarat musholla masih kosong menunggu jamaah datang. Pendapatnya berbeda dengan KH.Hasyim Asy’ari. Namun selama penulis 5 (lima) tahun sekolah di Pesantren Tebuireng menyaksikan sendiri masjid lama Tebuireng menggunakan bedug. KH.Hasyim Asy’ari adalah ulama yang sangat terkenal kealimannya. Terutama ahli hadits. Peletak dasar aswaja di tubuh NU dengan mengarang Kitab Qanun Asasi. Kealimannya salah satunya dapat dilihat dalam polemik fiqh seringkali menyampaikan pendapatnya berimprovisasi dalam bentuk syair atau perlambang dalam bahasa arab secara isti’jal atau spontan. Sehingga konfliknya tidak diketahui/ difahami masyarakat awam. Sayang Kitab Diwan Hasyim Asy’ari berupa kumpulan syi’irnya itu sampai sekarang dicari belum ditemukan. Keindahan dan kemampuan mengungkapkan pendapatnya jarang dimiliki ulama lainnya. Mengingatkan kita dengan Diwan Asy-Syafi’I dan Diwan Ali, walaupun yang menulisnya bukan Sayyidina Ali RA sendiri. Kiai Muhaimin banyak menyelamatkan kitab madzhab Imam Syafii. Di tengah gencarnya Pemerintah Saudi Arabia menarik peredaran kitab yang dianggap menyimpang dari ajaran Wahabi kemudian membakarnya. Di antara kitab Kiai Muhaimin tertera tandatangannya menjad koleksi Perpustakaan Tebuireng. Menurut H Ishaq bin Kiai Masykuri, ayahnya santri Kiai Muhaimin saat boyong dari Makkah naik kapal laut membopong kitab sebagian koleksi Darul Ulum. Sampai di rumahnya di Lasem ditumpuk, banyaknya sampai penuh di beberapa lemari besar. Kondisi kitabnya bolong-bolong, sekarang kitabnya sudah tidak ada. Dahulu yang telaten sempat meneliti adalah KH.A.Hamid Baidlowi. Menurut Kiai Maimun Zuber, kitab-kitabnya dimakan lenget, kutu buku. Jasa Kiai Muhaimin dalam sejarah yang tidak bisa dipungkiri adalah perannya di Raudlatul Munadzirin Makkah menghasilkan kader ulama unggulan yang menguasai referensi karya keagamaan klasik yang mampu menjawab dan memformulasikan persoalan-persoalan ummat dalam proses pengambilan hukum Islam. Telah mewarisi tradisi keilmuan bahtsul masail. Kegiatan keilmuan menjadi hidup atau kondusif. Kegiatan diskusi ilmiah tersebut juga terkenal di Indonesia, memberi sumber inspirasi. Gemanya meluas, di lingkungan pondok pesantren dan NU. Sehingga menjamur, berdiri bahtsul masail-bahtsul masail. Tsamrotur Raudlah, hasil2 Keputusan Raudhatul Munadzirin (Taman Cendikiawan) pernah diterbitkan dan didapatkan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri dan Majma’ Buhuts Nahdhiyyah, Jateng. Kitab Tsamrotur Raudlatusy Syahiyah memuat kumpulan jawaban permasalahan penting fiqh Madzhab Syafi’I dari pelajar Indonesia selama muqim di Makkatul Mukarromah antara lain Masykuri Lasem, Jarir bin Ismail Karang Anyar, Wazir bin Umar Bojonegoro, Abdul Jalil bin Abdul Hamid Juwana, Umar bin Abdurrahman Demak, Dahlan bin Kholil Jombang, Alawi bin Abdullah Demak, Muslih Afindi bin Dahlan Kudus, Abu Syuja’ bin Munawar Kediri, Mushtofa bin Nur Salim Rembang di bawah naungan Raudlatul Munadzirin dengan ta’ayyid dan tasyji’ oleh Asysyaikh Al Alim Al Allamah Al Ustadz Abdul Muhaimin bin Abdul Aziz Lasem. Ulama Makkah yang hidup masa itu antara lain Syaikh Adnan, Syaikh Muhammad Bakir, Syaikh Mukhsin Almusawa, Syaikh Umar Hamdan, Syaikh Ali Almaliki, dan Syaikh Mukhtar Ath-Thoriq. Menurut KH Maemun Zubair, andaikan tidak ada Kiai Muhaimin NU tidak akan sekuat itu, karena Makkah merupakan pusat Islam Dunia termasuk NU masa itu. Pasca diterimanya (success story) usul Komite Hijaz oleh Pemerintah baru Saudi Arabia agar memberikan kebebasan mengamalkan Madzaahibul Arba’ah bagi muqimin Makkah, maka kiprah Kiai Muhaimin dan komunitas Indonesia di Makkah membuktikan (secara life) ajaran Ahlussunnah wal Jamaah berdasarkan Madzahibul Arba’ah yang diusung Komite Hijaz cikal bakal NU begitu dinamis, aktif dan moderat. Bahkan peranan istrinya, Nyai Khairiyyah (Syekh Sodiq menyebutnya Syaikh Khairiyah) ikut mengantar fase awal berdirinya Daulah Su’udiyyah dalam bentuk model praktis serta visi misi emansipasi penddidikan wanita Arab. Dengan mendirikan Madrasah Banat yang pertama di Makkah tahun 1942. Menurut H.Aboebakar dalam bukunya, Nyai Khairiyyah selama 9 tahun mendirikan dan mengajar di Madrasah Wanita termasyhur di Syamiyyah, Makkah. Kiai Muhaimin membantu Nyai Khairiyyah Hasyim, istrinya, mendirikan Madrasah Kuttabul Banat. Sejarah mencatat, madrasah khusus wanita yang pertama di Makkah. Gerakan keduanya yang visioner terobosan besar bagi kemajuan pendidikan. Telah memperjuangkan emansipasi wanita di bidang pendidikan. Jiwa kepeloporan yang teramat langka dan tidak lazim pada zaman itu. Kontribusi yang besar tersebut tentu menggembirakan pemerintah dan warga Saudi Arabia atas jasa-jasanya itu. Semoga hubungan sejarah tersebut dapat membantu mempererat hubungan Indonesia-Saudi Arabia. Beberapa Madrasah Banat kemudian bermunculan di Makkah, antara lain Jam’iyah Khoiriyah University khusus wanita didirikan oleh Hj.Aminah Syaikh Yasin Al Padani. Bahkan juga di Makkah terdapat lembaga PKK dengan nama Jam’iyyatul Khoiriyah yang menurut sumber informasi dinisbatkan kepada Nyai Khairiyah, sekarang yang menangani puteri dari Bin Abdul Aziz Malik Faishal keluarga Kerajaan Saudi Arabia yang dikenal gigih memperjuangkan emansipasi wanita yang dirintis Nyai Khairiyah. Peninggalan Kiai Muhaimin dan Nyai Khairiyyah berupa Madrasah Darul Ulum termasuk di dalamnya terdapat qismul banat yang kemudian menjadi Madrasah Kuttabul Banat sampai tahun 1955 kemudian beralih status menjadi madrasah negeri atau dikelola oleh negara (Pemerintah Saudi Arabia) hingga sekarang. Kiai Muhaimin di samping alim, mengkader, di Makkah juga suka menolong orang lain. Sebagai tokoh yang dituakan, banyak membantu biaya hidup santri asal Indonesia yang sebagian besar serba berkekurangan, hidup pada masa penjajahan. Antara lain yang banyak dibantu, Kiai Wahib Wahab Jombang, Kiai Zaini bin Abdullah kakak kandung Kiai Hamid Pasuruan dan Kiai Bishri Musthofa, setelah kembali ke Rembang berhasil menjadi ulama besar dan produktif mengarang kitab.


Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic- s,detail-ids,13-id,39173-lang,id-c,tokoh- t,Selamatkan+Kitab+Madzab+Syafi%E2%80%99i +dari+Pembakaran+Wahabi-.phpx

25/09/12

Syi'ah Di Mata Mbah Hasyim Asy'ari

Sejak didirikan pertama kali pada 31 Januari 1926, NU melalui pendirinya Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari mengeluarkan rambu-rambu peringatan terhadap paham Syi’ah ini. Peringatan tersebut dikeluarkan agar warga NU ke depan hati-hati menyikapi fenomena perpecahan akidah. Meski pada masa itu aliran Syi’ah belum sepopuler sekarang, akan tetapi Simbah Hasyim Asya’ari memberi peringatan kesesatan Syi’ah melalui berbagai karyanya. Antara lain; "Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, "Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah,al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”. Beliau mengatakan: “Di zaman akhir ini tidak ada madzhab yang memenuhi persyaratan kecuali madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali). Adapun madzhab yang lain seperti madzhab Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Zaidiyyah adalah ahli bid’ah. Sehingga pendapat-pendapatnya tidak boleh diikuti” (Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, halaman 9). Syeikh Hasyim Asy’ari mengemukakan alasan mengapa Syi’ah Imamiyyah dan Zaidiyyah termasuk ahli bid’ah yang tidak sah untuk diikuti. Dalam kitab Muqaddimah Qanun Asasi halaman 7 mengecam golongan Syi’ah yang mencaci bahkan mengkafirkan sahabat Nabi SAW. Mengutip hadis yang ditulis Ibnu Hajar dalam Al-Shawa’iq al-Muhriqah, Mbah Hasyim Asy’ari menghimbau agar para ulama’ yang memiliki ilmu untuk meluruskan penyimpangan golongan yang mencaci sahabat Nabi SAW itu. Hadis Nabi SAW yang dikuti itu adalah: “Apabila telah Nampak fitnah dan bid’ah pencacian terhadap sahabatku, maka bagi orang alim harus menampakkan ilmunya. Apabila orang alim tersebut tidak melakukan hal tersebut (menggunakan ilmu untuk meluruskan golongan yang mencaci sahabat) maka baginya laknat Allah, para malaikat dan laknat seluruh manusia”. Peringatan untuk membentengi akidah umat itu diulangi lagi oleh Syeikh Hasyim dalam pidatonya dalam muktamar pertama Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’, bahwa madzhab yang sah adalah empat madzhab tersebut, warga NU agar berhati-hati menghadapi perkembangan aliran-aliran di luar madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut. Dalam Qanun Asasi itu, Syeikh Hasyim Asy’ari menilai fenomena Syi’ah merupakan fitnah agama yang tidak saja patut diwaspadai, tapi harus diluruskan. Pelurusan akidah itu menurut beliau adalah tugas orang berilmu, jika ulama’ diam tidak meluruskan akidah, maka mereka dilaknat Allah SWT. Kitab “Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’” sendiri merupakan kitab yang ditulis oleh Syeikh Hasyim Asy’ari, berisi pedoman-pedoman utama dalam menjalankan amanah keorganisasian Nahdlatul Ulama. Peraturan dan tata tertib Jam’iyyah mesti semuanya mengacu kepada kitab tersebut. Jika Syeikh Hasyim Asy’ari mengangkat isu-isu kesesatan Syi’ah dalam “Muqaddimah Qanun Asasi”, itu berarti persoalan kontroversi Syi’ah dinilai Syeikh Hasyim sebagai persoalan sangat penting untuk diketahui umat Islam Indonesia. Artinya, persoalan Syi’ah menjadi agenda setiap generasi Nahdliyyin untuk diselesaikan sesuai dengan pedoman dalam kitab tersebut. Sikap tegas juga ditunjukkan Syeikh Hasyim dalam karyanya yang lain. Antara lain dalam “Risalah Ahlu al-Sunnah wal Jama’ah” dan “al-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin” dan “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”, di mana cacian Syi’ah dijawab dengan tuntas oleh Syeikh Hasyim dengan mengutip hadis-hadis Nabi SAW tentang laknat bagi orang yang mencaci sahabatnya. Lain Hadhrotus Syaikh Mbah Hasyim lain pula sikap para pemimpin NU jaman sekarang, silahkan menyimpulkan..

03/09/12

Majlis Haul Simbah KH. Baidhowi Ke-42 dihadiri ribuan jama'ah

Haul yang digelar hari Ahad siang bertempat di pelataran Pondok Pesantren Al-Wahdah, Sumbergirang, Lasem-Rembang, Jawa Tengah, itu juga dihadiri sejumlah kiai. Diantaranya Mustasyar PBNU, KH Maemoen Zuber Sarang. Hadir pula Bupati Rembang, H Abdul Hafidz. Dalam tausiyahnya, KH Maemoen Zuber mengatakan, bahwa KH Baedlowi merupakan penyebar tarekat Syattariyyah.  "Tarekat ini merupakan salah satu tarekat terpenting dalam proses islamisasi di Indonesia. Dzikir yang diajarkan oleh tarekat ini sangat cocok untuk orang awam," kata Mbah Maemun. ”Mbah Baedlowi, ikut mengembangkan tarekat syattariyyah,” lanjut Mbah Maemoen, yang juga menantu KH Baedlowi. Pada bagian lain, Mbah Maemoen menjelaskan hubungan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah meninggal ibarat hubungan antara pengikal benang dengan layang-layang. "Dimana, orang hidup itu ibarat pengikal benang, sedangkan orang yang sudah meninggal ibarat layang-layang." "Layang-layang bisa dinaikkan dengan mengendorkan benang dari pengikal benangnya. Sebaliknya, layang-layang bisa diturunkan atau dijatuhkan dengan menarik benang dari pengikal benangnya," jelasnya. Orang yang masih hidup di dunia, lanjut Mbah Moen, bisa menaikkan arwah orang yang sudah meninggal. Sebaliknya, orang yang masih hidup juga bisa menurunkan arwah orang yang sudah meninggal. ”Jadi, meski sudah meninggal, masih ada hubungan dengan orang yang masih hidup,” tambahnya.        Dalam sejarah, KH Baedlowi memiliki peran yang cukup besar khususnya dalam upaya mempertahankan keutuhan NKRI. Salah satunya, beliau mengusulkan agar Presiden RI saat itu, Ir Soekarno diberikan gelar waliyyul al-amri ad-dharuri bi as-asyukah.  Usulan KH Baedlowi itu terkait dengan munculnya persoalan politik di tanah air yang mempertanyakan sah tidaknya posisi Ir Soekarno sebagai presiden di Indonesia. Akhirnya, usulan KH Baedlowi dibawa ke forum muktamar NU pada tahun 1947 di Madiun yang memutuskan bahwa Ir Soekarno adalah Kepala Negara Republik Indonesia sebagai waliyyu al-amri ad-dharuri bi as-syaukah. Artinya, pemegang pemerintahan yang bersifat darurat dengan kekuatan dan kekuasaan. Selain KH Baedlowi bin Abdul Aziz, sejumlah masyayikh juga ikut dihauli. Antara lain Ny Hj Halimah bin Shiddiq, Ny Hj Hamdanah binti Ahmad Ke-31, KH Cholil bin Abdullah Umar Ke-13, dan Ny Hj Shofiyatun binti Abdullah Sajjad Ke-13. Selain itu, ada Ny Hj Roudloh binti Baedlowi, Kiai Abdul Bar bin Baedlowi, Ny Hj Afwah binti Baedlowi, Kiai Abdul Quddus bin Baedlowi, KH Abdul Halim bin Baedlowi Ny Hj Saudah binti Baedlowi, Ny Hj Fahimah binti Baedlowi, dan segenap sesepuh dan keluarga besar Pesantren Al-Wahdah, Lasem. *) Sumber: NU Online

18/06/12

Al-Habib Zein Bin Ibrahim Bin Sumaith : Mutiara Dari Madinah Munawwarah

Nama dan nasab beliau: Beliau adalah al-'Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-'Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da`ie ilaLlah as-Sayyid al-Habib Zein bin Ibrahim bin Zein bin Muhammad bin Zein bin 'Abdur Rahman bin Ahmad bin 'Abdur Rahman bin 'Ali bin Saalim bin `Abdillah bin Muhammad Sumaith bin 'Ali bin 'Abdur Rahman bin Ahmad bin 'Alwi bin Ahmad bin 'Abdur Rahman bin 'Alwi ('Ammul Faqih al-Muqaddam) bin Muhammad Shahib al-Mirbath bin ‘Ali bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin ‘Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir Ilallah bin ‘Isa ar-Rumi. Bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far as-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin asy-Syahid Hussin as-Sibth, putera Sayyidina ‘Ali dan Sayyidatina Fathimah az-Zahra’ bin Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلم. Beliau dilahirkan pada tahun 1357H (1936M) di Jakarta, Indonesia. Beliau lahir dari keluarga yang sholeh. Ayahanda beliau, al-Habib Ibrahim bin Zein pernah menjadi imam di Masjid Habib ‘Abdullah bin Muhsin di Bogor ketika di akhir umur beliau. Al-Habib Zein bin Ibrahim Bin Sumaith mendapat didikan awal agamanya oleh ayahandanya sendiri dan juga dengan para ulama dan pemuka habaib di Jawa. Sedari kecil beliau telah dibawa oleh ayahandanya untuk hadir ke halaqah ilmu, rohah dan mawlid yang dianjurkan oleh Habib 'Alwi bin Muhammad al-Haddad di Bogor yang merupakan naqib para saadah di Tanah Jawa. Habib 'Alwi ini adalah seorang ulama dan waliyUllah yang terkemuka pada masanya. Beliau wafat pada tahun 1373H dan dimakamkan di Empang, Bogor di mana hingga saat ini makamnya diziarahi dan terkenal sebagai Keramat Empang Bogor. Beliau inilah di antara guru awal Habib Zein. Selain itu, Habib Zein juga sering dibawa ayahandanya untuk meneguk ilmu dan hikmah di majlis seorang lagi ulama dan waliyUllah iaitu Habib 'Ali bin 'Abdur Rahman al-Habsyi (Habib 'Ali Kwitang). (Foto Guru-guru Habib Zein) Pada tahun 1371H (1950M), ketika usianya lebih kurang 14 tahun, Habib Zein telah dibawa oleh ayahandanya ke Tarim al-Ghanna, tempat asal keturunannya. Di sana, Habib Zein tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan. beliau berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya beliau belajar di rubath Tarim (Foto Guru-guru Habib Zein) Di antara guru-guru beliau di Tarim adalah:- Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Saalim Bin Hafidz – dengan guru beliau ini, al-Habib Zein bin Ibrahim BinSumaith belajar dan menghafal kitab Sofwah az-Zubad karya Imam Ibn Ruslan, kitab al-Irsyad karya Ibn Muqri (sehingga bab Jinayat) dan Nadzam Hadiyyah ash-Shaadiq karya al-Habib ‘Abdullah bin Hussin bin Thohir. Selain itu beliau belajar kitab-kitab karangan al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz dalam ilmu faraidh dan munakahat, sebahagian dari kitab Minhaj, kitab-kitab tasawwuf dan ilmu falak; Habib 'Umar bin 'Alwi al-Kaaf – beliau belajar ilmu Nahwu, Ma’ani dan Bayan. Dengan guru beliau ini juga beliau mempelajari kitab Mutammimah al-Ajrumiyyah dan Alfiyyah serta syarah-syarahnya. Beliau juga menghafal matan Alfiyyah; Habib 'Alwi bin 'Abdullah Bin Syihaabuddin – beliau mengikuti majlis-majlis pengajian al-Habib ‘Alwi di Rubath Tarim, juga mengikuti rohah yang diadakan di kediamannya dan majelis Syeikh ‘Ali bin Abu Bakar as-Sakran; Habib Ja'far bin Ahmad al-'Aydrus – beliau sering berulang-alik ke tempatnya dan beliau memperolehi banyak ijazah daripadanya; Habib Ibrahim bin 'Umar bin 'Aqil; Habib Abu Bakar 'Atthas bin 'Abdullah al-Habsyi - beliau membaca kitab al-Arbain al-Ushul karya Imam al-Ghazali; Habib Salim bin 'Alwi al-Khird – beliau membaca kitab Mulhaq al-‘Irab karya Abu Muhammad al-Qaasim bin ‘Ali al-Hariri al-Bashri; Habib 'Abdur Rahman bin Haamid as-Sariy – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat; 'Allaamah Syaikh Mahfuz bin Saalim az-Zubaidi – beliau mempelajari ilmu fiqih; Syaikh Saalim bin Sa`id Bukayyir BaGhitsaan al-Mufti – beliau belajar fiqih; Syaikh Fadhl bin Muhammad BaFadhl – beliau mempelajari ilmu ushul, mempelajari matan Waraqat; Berangkat ke Baidho’: Setelah kira-kira 8 tahun menuntut di Tarim, Habib Zein telah disuruh oleh guru beliau Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz untuk pindah ke Kota Baidha` untuk mengajar dan berdakwah di samping meneruskan pengajian dengan para ulama di sana antaranya kepada mufti Baidha`, Habib Muhammad bin 'Abdullah al-Haddar. Kedatangannya ke Baidha` disambut dengan penuh kegembiraan oleh Habib Muhammad bin 'Abdullah al-Haddar. Habib Zein telah ditugaskan oleh Habib Muhammad al-Haddar untuk mengajar dan membantu beliau dalam berdakwah. Kagum dengan beliau, akhirnya Habib Muhammad al-Haddar telah menikahkan beliau dengan puterinya. Habib Zein juga diijazahkan pelbagai riwayat oleh Habib Muhammad bin 'Abdullah al-Haddar. Habib Zein terus menetap di Baidha` dan meneruskan pengabdiannya terhadap ilmu dan dakwah di mana beliau menjadi tempat rujuk dan mufti. Ketinggian ilmunya diakui oleh para ulama sehingga Habib Muhammad al-Haddar menyatakan bahawa apabila sesuatu permasalahan itu telah dijawab oleh Habib Zein, maka tidaklah perlu untuk membuat rujukan lain. Selain itu beliau juga mendapat ijazah daripada kalangan Saadah Ba’alawi dan para ulama’ dunia Islam, seperti: Al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Hadi as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, al-'Allamah al-Muhaddits Sayyid 'Alawi bin 'Abbas bin ‘Abdul Aziz al-Maliki al-Makki al-Hasani, al-‘Allamah al-Habib 'Umar bin Ahmad Bin Sumaith, al-‘Allamah al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib 'Abdul Qaadir bin Ahmad as-Saqqaf, al-‘Allamah al-Habib Hasan bin ‘Abdullah bin ‘Umar asy-Syathiri, asy-Syaikh Umar al-Haddad, al-‘Allamah al-Habib Muhammad bin Ahmad asy-Syathiri, al-‘Allamah asy-Syaikh ‘Abdullah bin Sa’id al-Lahji al-Hadhrami dan Sayyid Yusuf ar-Rifai al-Kuwaiti. Berhijrah ke Madinah: Setelah kira-kira 21 tahun menetap di Baidho` menyumbang ilmu dan berdakwah, maka pada bulan Ramadhan 1406, Habib Zein telah berhijrah ke kota kakek beliau al-Mustafa, Madinah al-Munawwarah, untuk menjadi pengasuh Rubath Habib 'Abdur Rahman bin Hasan al-Jufri. Beliau bersama-sama dengan Habib Salim bin ‘Abdullah bin Umar asy-Syaathiri untuk mengasuh Rubath al-Jufri tersebut. Setelah Habib Salim pulang ke Tarim untuk mengasuh Rubath Tarim, maka tanggungjawab di Rubath al-Jufri dipikul sepenuhnya oleh Habib Zein sehingga kini. Walaupun beliau sudah mempunyai murid-murid di Madinah, beliau masih mengambil peluang untuk menimba ilmu dari ulama ulama Madinah seperti:- Syaikh Muhammad Zaidan asy-Syanqiti al-Maliki – beliau mempelajari ilmu ushul, membaca kitab at-Tiryaq an-Nafi’ ‘ala Masail Jam’ul Jawami’ karya al-Imam Abu Bakar bin Syahab dan kitab Maraqi as-Su’ud karya Syarif ‘Abdullah al-‘Alawi asy-Syanqitiy; al-‘Allamah an-Nihrir Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani asy-Syanqiti – beliau membaca kitab Syarah al-Qathr, sebahagian daripada kitab Ibnu ‘Aqil, Idha’ah al-Dujunnah karya Imam al-Maqqari, as-Sullam al-Munauraq karya al-Akhdhari, Isadguji karya Imam al-Abhari, Itmam ad-Dirayah li Qurra an-Naqayah karya as-Sayuthi, al-Maqsyur wa al-Mamdud dan Lamiyah al-Af’al karya Ibnu Malik, Mughni Labib karya Ibnu Hisyam, Jauhar al-Maknun dan kitab ilmu shorof. Guru beliau ini memuji al-Habib Zein kerana semangat dan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu. Selain melahirkan banyak murid, beliau juga telah menghasilkan beberapa karya ilmiah berupa kitab-kitab, di antaranya: al-Manhaj as-Sawi syarhu Ushul Thoriiqah as-Saadah Ali Baa'Alawi – karya beliau yang unggul dalam mensyarahkan ushul thariqah aal Ba’Alawi. Pokok utama kitab ini mensyarahkan kata-kata al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi (wafat 1145H, murid dari al-Imam ‘Abdullah al-Haddad) iaitu: “Thariqah Saadah Aal Ba’alawi adalah ilmu, ‘amal, wara`, khauf (takut kepada Allah) dan ikhlas kepadaNya”. al-Ajwibah al-Ghaliyyah fi 'Aqidah al-Firqah an-Naajiyyah – kitab ini di dalam bentuk soal-jawab (buku telah al-Fagir dan teman-teman terjemahkan, insyAllah akan berada di pasaran sedikit masa lagi ini). Kitab ini mengulas tentang aqidah ahlussunah wal jamaah, yang berisi tentang jawaban atas amaliyah golongan ahlussunah wal jamaah yang selama ini dianggap oleh sekelompok kecil umat islam (bahasa mudahnya Wahabi) sebagai amalan yang menyimpang dari ajaran Islam, sedangkan amaliyah tersebut telah dilakukan oleh generasi terdahulu, yaitu generasi sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in dan terus menerus hingga sekarang. al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah min Anfas as-Sadah al-‘Alawiyyah – kitab ini menghimpunkan tafsir isyari kepada beberapa ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabawi yang beliau himpunkan daripada kalam Saadah ‘Alawiyyin. al-Futuhat al-‘Aliyyah fi al-Khutbah al-Minbariyyah (5 jilid) – merupakan himpunan khutbah-khutbah beliau. Hidayah ath-Thalibin fi Bayan Muhimmat ad-Din – kitab ini merupakan syarah kepada hadits Jibril iaitu mengenai pengertian Islam, Iman dan Ihsan. Hidayah az-Zairin ila Ad’iyyah az-Ziyarah an-Nabawiyyah wa Masyahid ash-Shalihin – merupakan kumpulan doa para salaf (ulama-ulama Saadah ‘Alawiyyin terdahulu) yang diucapkan ketika menziarahi Nabi صلى الله عليه وآله وسلم dan makam-makam yang terletak di Haramain (Makkah dan Madinah) dan Hadramaut. an-Nujum az-Zahirah li Saliki Thariqi al-Akhirah – merupakan kumpulan ‘amalan-‘amalan para Saadah Ba’alawi beserta dengan faedahnya. Kitab Tsabat (Sanad-sanad dan masyaikh beliau) Dan yang paling baru, kitab Bahjah at-Thalibin - Kitab yang membahas dengan aqidah – masih di dalam bentuk manuskrip dan lain-lain yang belum dibukukan. Beliau seorang yang sangat ‘alim, faqih dan ‘arif billah. Pakar dalam persoalan-persoalan di dalam madzhab Syafie. Oleh kerana itulah banyak yang menyebut beliau sebagai syafie shaghir di zaman ini. Ketika di usia mudanya, beliau seorang yang bersungguh-sungguh di dalam menuntut ilmu. Guru-guru beliau sering memuji beliau karena kelebihan beliau dibanding rekan-rekannya, juga kerana adab, suluk dan akhlaq beliau yang baik. Beliau juga seorang yang tawadhu'. Terkenal khumul yang tidak senang dengan kemasyhuran dan tinggi sebutan. Pada suatu saat ketika beliau bertamu di rumah salah satu Ulama' Besar Mekkah al-Habib Umar al-Jaelani, ketika itu beliau sedang dalam ujian berat disebabkan perlakuan pemerintah setempat yang membatasi gerak dakwah dan pengajarannya. Habib Umar menyinggung tentang hal itu, beliau hanya menjawab: "Mungkin ini terjadi karena banyaknya dosa saya". Kemudian Habib Umar menyanggah dengan berkata bahwa bukan karena itu, tapi ujian Allah datang bagi hamba-hamba Allah yang akan diangkat derajatnya di sisi Allah SWT. Insyaallah al-Habib Zein termasuk ulama' yang akan diangkat derajatnya oleh Allah Ta'ala. Demikianlah salah satu sifat tawadhu' beliau, tanpa menyalahkan siapapun dan memaki pihak-pihak yang sudah berbuat dzalim kepadanya, bahkan menganggap semuanya adalah kesalahan yang harus beliau tanggung. Subhanallah.... Semoga kita bisa mengambil teladan dari beliau, dan kelak di akhirat dikumpulkan bersama beliau dan ulama'-ulama' sholihin. Rabbi fanfa'na bibarkatihim...

15/06/12

Surat Imam Ghazali Kepada Muridnya

Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira di dalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf. Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: "Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu." Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah. Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, "Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata".

03/06/12

Membentengi kerapuhan bathin dengan Wirdul-Lathif

Wirdul-Latif karya الإمام القطب عبد الله بن علوي الحداد Wirdul-Latif adalah satu dari wirid dan dzikir yang disusun oleh Al-Imam Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad. Selalu beliau baca pada waktu pagi dan petang. Seperti karangannya yang lain, Imam Haddad menguatkan wirid ini dengan ayat-ayat Al-Quran dan hadith. Dengan cara tulisannya yang mudah dipahami, pendek dan tepat, beliau menyusun ayat-ayat Al-Quran dan Hadith untuk berzikir kebesaran dan kelebihan Allah. Karangan dan bacaan Wirdul-Latif di sini ialah seperti yang dianjurkan oleh pengikut-pengikut, murid-murid dan muslimin di negeri Arab, Semenanjung Asia dan Africa, dari keturunan Al-Haddad, Munsib-munsibnya di maqam Imam al Haddad di Al-Hawi, Tarim – Hadhramaut di negara Yaman. Imam Alawi bin Ahmad bin Hassan Al-Haddad, anak dari cucu beliau telah menyusunkan wirid ini dengan mengurangkan jumlah bacaan tasbih dan tahmeed. Perulangan tasbih dan tahmid dikurangi menjadi tiga dan ditambah satu ayat untuk gantinya. Baginda mengikuti arahan Allah seperti di Surah 2 Al-Baqarah Ayat 286: “Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya.” Diriwayatkan daripada Anas r.a. katanya: Rasulullah s.a.w telah masuk ke masjid dan baginda mendapati ada seutas tali yang direntangkan di antara dua tiang, lalu baginda bertanya: “Tali apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Tali itu digunakan oleh Zainab untuk sembahyang, apabila dia merasa malas atau keletihan dia akan berpegang pada tali tersebut.” Rasulullah s.a.w bersabda lagi, “Lepaskan ikatan tali tersebut, seseorang dari kamu hendaklah bersembahyang dengan keupayaan yang ada pada dirinya, apabila dia malas atau letih maka hendaklah dia berhenti.” Zainab adalah seorang yang kukuh imannya. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Zainab r.a. jikalau ia mahu belajar satu zikir yang berpahala serupa dengan membaca bilangan dzikir-dzikir ini. Dan Baginda pun berkata, “tambahkan kalimah ‘seberapa banyak ciptaan Nya’ kepada setiap tasbih, taslim dan tahmid”. ——————————————————————————– الوِرْدُ اْللَطِيف 1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ قُلْ هُوَ اْللهُ أَحَدٌ، اَللهُ اْلصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يٌوْلَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. (ثلاثا) Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!” Dalam kitab Al-Muwatta’, diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu). 2. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَـرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَـرِّ النَّـفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ. (ثلاثا) Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku. 3. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ. (ثلاثا) Dari Tirmidzi diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan dari kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Ketika surah al-falaq dan an-nas turun, baginda Rasul membaca ayat-ayat ini saja. 4. رَبِّ أَعُوذُ بِـكَ مِنْ هَمَـزَاتِ الشَّيَـاطِينِ، وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُـرُونِ. (ثلاثا) 4. Ya Tuhanku, aku berlindung dengan-Mu dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung pula dengan-Mu ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku. (3X) Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 97-98 5. أَ فَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثاَ وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لاَ تُرْجَعُـوْنَ. 5. Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main saja, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 115 6. فَتَعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيْمِ. 6. Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya – Tidak ada Tuhan Selain Dia – Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang Agong. Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 116 7. وَ مَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ لاَ بُرْهَانَ لَهُ بِـهِ، فَإِنَّمَا حِسَـابُهُ، عِنْدَ رَبّـِهِ، إِنَّـهُ لاَ يُفْلِحُ الْكَافِـرُوْنَ. 7. Dan barangsiapa menyembah tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tidak beruntung. Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 117 8. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. 8. Dan katakanlah: Ya Tuhanku berilah ampunan dan berilah rahmat, dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling baik! Surah 23: Al-Mu’minun Ayat 118 9. فَسُبْحَانَ اللهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ. 9. Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh. Surah 30: Ar-Rum Ayat 17 10. وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ. 10. Dan bagiNyalah segala puji di langit dan bumi, dan di waktu petang dan di waktu kamu berada di waktu dhuhur. Surah 30: Ar-Rum Ayat 18 11. يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ، وَيُحْيِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرِجُوْنَ. 11. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya: dan seperti itulah kamu dikeluarkan dari kubur. Surah 30: Ar-Rum Ayat 19 12. أَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم.ِ (ثلاثا) 12. Aku berlindung dengan Allah Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk. (3X) Dari Abu Daud diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; “Apabila Rasulullah s.a.w. sembahyang tahajjud, selepas beliau bertakbir, baginda membaca: “Subhanallah, Alhamdulillah, Allahuakbar dan Lailaha illallah, tiga kali kemudian beliau mengucap: “Aku berlindung dengan Allah, Yang Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui dari bisikan syaitan yang terkutuk, dari bisikannya, godaannya dan ludahnya. 13. لَوْ أَنْزَلْنَـا هَذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًـا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ، وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ. 13. Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah-pecah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. Surah 59: Al-Hashr Ayat 21 14. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهاَدَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ 14. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang. Surah 59: Al-Hashr Ayat 22 15. هُوَ اللهُ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِـنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ، سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ. 15. Dialah Allah Yang Tiada Tuhan Selain Dia; Raja Yang Maha Suci; Yang Maha Sejahtera; Yang Mengurniakan keamanan; Yang Maha Memelihara; Yang Maha Perkasa; Yang Maha Kuasa; Yang Memeliki Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Surah 59: Al-Hashr Ayat 23 16. هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ، لَهُ الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى، يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيمُ. 16. Dialah Allah Yang Menciptakan; Yang Mengadakan; Yang Membentuk Rupa; Yang Mempunyai sifat-sifat yang baik; Bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa Lagi Maha Bijaksana. Surah 59: Al-Hashr Ayat 24 17. سَلاَمٌ عَلَى نُوْحٍ فِي الْعَالَمِيْنَ. 17. Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam. Surah 37:Al-Saffat Ayat 79 18. إِنَّا كَذَلِكَ نُجْزِي الْمُحْسِنِيْنَ. 18. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Surah 37:Al-Saffat Ayat 80 19. إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِيْنَ. 19. Sesungguhnya dia termasuk di antara hamba-hamba Kami yang beriman. Surah 37:Al-Saffat Ayat 81 20. أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. (ثلاثا) 20. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhlukNya. (3X) Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.” 21. بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ أسْمِهِ شَيْءٌ فِي اْلأَرْضِ وَلاَ فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. (ثلاثا) 21. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tak satu pun, yang di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana dan Ia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X) Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang, tiada kesakitan apa jua akan di alaminya.” 22. الَّلهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ مِنْكَ فِي نِعْمَةٍ وَعَافِيَةٍ وَسِتْرٍ، فَأَتْمِمْ نِعْمَتَكَ عَلَيَّ وَعَافِيَتَكَ وَسِتْرَكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. (ثلاثا) 22. Ya Allah, sesungguhnya aku telah mendapatkan kurnia, kesehatan serta perlindungan daripada-Mu di pagi hari ini, maka sempurnakan kurnia kesihatan serta perlindungan-Mu padaku di dunia dan akhirat. (3X) 23. اللَّهُمَّ إِنِّي أَصْبَحْتُ أُشْهِدُكَ وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ وَمَلاَئِكَتَكَ وَجَمِيعَ خَلْقِكَ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ. (أربعا) 23. Ya Allah, di pagi hari ini aku mengambil-Mu sebagai saksi, begitu pun para pemikul ‘Arsy-Mu, para malaikat-Mu dan seluruh makhluk-Mu, bahawa Engkaulah Tuhan, tiada Tuhan selain Engkau, Tunggal tiada sekutu, dan bahawa Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu. (4X) 24. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْداً يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. (ثلاثا) 24. Segala puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam, pujian yang memadai nikmat-nikmat-Nya dan mencukupi penambahanNya. (3X) 25. آمَنْتُ بِاللهِ العَظِيْمِ، وَكَفَرْتُ بِالْجِبْتِ وَالطَّاغُوْتِ، وَاسْتَمْسَكْتُ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى، لاَ اَنْفِصَامَ لَهاَ، وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيمٌ. (ثلاثا) 25. Aku beriman kepada Allah Yang Maha Agung dan ingkar terhadap sembahan selain Allah, kejahatan dan thoghut (segala yang disekutukan dengan Allah), dan aku berpegang dengan tali yang kukuh yang tidak akan terputus. Dan Allah Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X) Surah Al-Baqarah Ayat 256; Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Salam, yang menceritakan satu peristiwanya kepada Rasulullah s.a.w. lalu baginda berkata, “Syurga itu Islam, dan berpeganglah Pegangan Yang Teguh (urwat al-wuthqa) supaya kamu sentiasa menjadi seorang Muslim sampai kamu mati.” 26. رَضِيْتُ بِاللهِ رَبـًّا، وَ بِالإِسْلاَمِ دِيْنـًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُولاً. (ثلاثا) 26. Aku ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad s.a.w. sebagai Nabi dan rasul. (3X) Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Sesiapa berdoa setiap pagi dan petang dengan doa ini akan masuk ke syurga.” Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya ugama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam. 27. حَسْـبِيَ اللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَ هُـوَ عَلَيْـهِ تَـوَكَّلْتُ وَهُـوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيْـمِ. (سبعاً) 27. Cukuplah Allah sebagai pelindungku; tiada Tuhan melainkan Dia, kepada-Nya aku bertawakal, dan Dialah Penguasa Arasy yang agung. (7X) Surah 9 al-Tawbah Ayat 129. Dari Tirmidhi, diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Bagaimana saya hendak rehat sedangkan tiupan telah sedia di mulutnya, membuka telinganya dan tunduk kepalanya, menunggu arahan untuk meniup? Ditanya lagi, apa pula arahan baginda, “Cukuplah Allah sebagai pelindungku dan Dia lah sebaik-baik penjaga.” 28. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. (عَشرًا) 28. Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam-Mu ke atas penghulu kami Muhammad serta keluarga dan sahabat-sahabatnya. (10X) Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr bin Al ’As: Rasullulah s.a.w. bersabda: “Sesiapa meminta Allah berselawat kepadaku, Allah akan membalas keatasnya dengan sepuluh kali selawat.” Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat (memberi segala penghormatan dan kebaikan) kepada Nabi (Muhammad s.a.w); wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang sepenuhnya..” 29. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ. 29. Ya Allah aku bermohon kepada-Mu untuk kebaikan yang tidak disangka; dan aku berlindung dengan-Mu daripada bencana yang mengejut. (Sila rujuk Hadith Per. 31) 30. اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ، وَ أَناَ عَبْدُكَ، وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. 30. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku. Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Shaddad ibn Aws; Rasulullah s.a.w. bersabda, “Sebaik-baiknya cara memohon ampunan dari Allah ialah: “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau; Engkau ciptakan daku dan aku ini adalah hamba-Mu dan aku akan menuruti titah dan amanat-Mu sekuat tenagaku tanpa soal. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau.” Rasulullah s.a.w bersambung lagi… (Sila rujuk Hadith Per. 31 dibawah) 31. أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ مـَا صَنَعْـتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فاَغْفِرْ لِيْ، فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ. 31. Aku berlindung dengan-Mu dari hal-hal buruk yang Engkau ciptakan, dan aku mengakui nikmat kurnia-Mu kepadaku, serta mengakui dosaku, maka ampunilah daku, kerana tak ada yang mampu mengampuni dosa itu selainkan Engkau. Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Buraydah ibn Hasib; Rasullulah s.a.w. bersabda: Kalau sesipa katakan di waktu pagi dan petang,: “ Ya Allah! Engkaulah Tuhanku; tiada tuhan selain-Mu, Engkau Penciptaku, aku hamba-Mu, dan aku berpegang dengan tali yang kokoh yang tidak akan putus; Aku berlindung dari perkara buruk yang aku telah lakukan; aku mengakui nikmat-Mu serta dosaku; ampunilah aku sebab tiada yang mampu mengampuni selainkan Engkau.”, dan jika dia mati pada hari atau malam itu, dia akan masuk syurga. 32. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ اِلَهَ إلاَّ أَنْتَ، عَلَيْكَ تَوَكَّلْـتُ، وَأَنْتَ رَبُّ الْعَـرْشِ الْعَظِيْـمِ. 32. Ya Allah, Engkaulah Tuhanku tiada tuhan selain Engkau, hanya kepada Engkau aku berserah diri, dan Engkaulah Tuhan yang mempunyai Keagungan. Dari Bukhari, diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas; Rasullulah s.a.w. apabila dimasa kesusahan berdoa dengan membaca: “Tiada yang berhak disembah melainkan Allah, Maha Sejahtera, Maha Kuasa. Tiada yang berhak disembah selain Allah, Tuhan senanjung syurga dan dunia, Raja Yang Agung.” 33. مَا شَاءَ اللهُ كَـانَ، وَمَا لَمْ يَشَأْ لَـمْ يَكُنْ، وَلاَ حَـوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. 33. Apa yang dikehendaki Allah pasti akan terjadi, dan apa yang tidak dikehendaki tidak akan terjadi, Tiada daya dan tiada kekuatan tanpa pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar (Rujuk Keterangan di Per: 54) 34. اَعْلَـمُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْـرٌ، وَاَنَّ اللهَ قَدْ أَحَـاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًـا. 34. Aku mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah tetap meliputi ilmu-Nya atas tiap-tiap sesuatu. Surah 65: Al Talaq Ayat 12 35. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِـكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِيْ، وَمِنْ شَرِّ كُـلِّ دَابَّـةٍ أَنْتَ آخِـذٌ بِنَا صِيَتِهاَ، إِنَّ رَبِيِّ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. * 35. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kejahatan diriku sendiri, dan dari kejahatan segala yang melata yang ubun-ubunnya berada dalam genggaman-Mu, sesungguhnya Tuhanku selalu berada di atas jalan yang lurus. 36. يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ اَسْتَغِيْثُ، وَمِنْ عَذَابِكَ أَسْتَجِيْرُ. 36. Ya Allah, Yang Hidup, Tuhan Yang Berdiri Sendiri, aku memohon pertolongan dengan kasih sayang-Mu, dan aku memohon perlindungan daripada siksa-Mu. 37. أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ، وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَي نَفْسِيْ وَلاَ إِلَى أَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ طَرْفَةَ عَيْنٍ. 37. Berilah kepadaku kebaikan dalam semua permasaalahanku, janganlah Engkau menyerahkan daku kepada diriku sendiri, dan jangan juga kepada salah seorang pun daripada makhluk-Mu walau sekelip mata sekalipun. 38. اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ. 38. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu daripada keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu dari beban hutang dan dari paksaan manusia. Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik; apabila Rasulullah s.a.w., berhenti untuk berehat; saya dengar baginda berdoa: “Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dan aku berlindung dengan-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung dengan-Mu dari bebanan hutang dan daripada paksaan manusia” 39. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ، فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. 39. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat. 40. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَـافِيَةَ، وَالْمَعَافاَةَ الدَّائِمَةَ، فِي دِيْنِيْ وَدُنْياَيَ وَأَهْلِيْ وَماَلِيْ. 40. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Dari Abu Dawud, diriwayatkan dari Abdullah ibn Umar; Rasulullah s.a.w. selalu mengucapkan doa ini di waktu pagi dan petang: “Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu kesejahteraan di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu pengampunan dan kesejahteraan serta perlindungan yang abadi dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depanku dan dari belakangku, dan dari kananku dan dari kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari).) 41. اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِيْ وَآمِنْ رَوْعَاتِيْ. 41. Ya Allah, tutupilah segala ke’aibanku, dan amankanlah ketakutanku. (Sila rujuk Hadith Per: 40) 42. اَللَّهُمَّ احْفَظْنِيْ مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِيْ وَعَنْ يَمِيْنِيْ وَعَنْ شِماَلِيْ وَمِنْ فَوْقِيْ، وَأَعُوْذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ أُغْتاَلَ مِنْ تَحْتِيْ. * 42. Ya Allah, peliharalah daku dari malapetaka yang datang dari depan dan belakangku, dan dari kanan dan kiriku, dan dari atasku, dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar jangan ditipu dari bawahku (tanpa disedari). (Sila rujuk Hadith Per: 40) 43. اَللَّهُـمَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِـيْ، وَأَنْتَ تَهْدِيْنِـيْ، وَأَنْتَ تُطْعِمُنِـيْ وَأَنْتَ تَسْقِيْنِـيْ، وَأَنْتَ تُمِيْتُنِـي، وَأَنْتَ تُحْيِيْنِـيْ. 43. Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan daku, memberikan petunjuk kepadaku, memberi makanan padaku, memberikan minuman kepadaku, mematikan daku, dan membangkitkan daku semula. Dari Muslim, diriwayatkan oleh Miqdad, Rasulullah s.a.w bersabda, “Allah, memberiku makanan, memberiku minuman,” setelah baginda dapati susunya telah di minum oleh seorang. 44. أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ اْلإِسْلاَمِ، وَعَلَى كَلِمَةِ اْلإِخْلاَصِ، وَعَلَى دِيْنِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى مِلَّةِ أَبِيْنَا إِبْراَهِيْمَ حَنِيْفاً مُسْلِماً، وَماَ كاَنَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ. * 44. Kami berada pada pagi ini dengan fitrah beragama Islam, di atas kalimah ikhlas, dengan agama Nabi kami Muhammad s.a.w dan agama bapa kami Ibrahim a.s. yang lurus dan berserah diri (kepada Allah), dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan yang lain. “Hari ini Kami telah lengkapkan agamamu, dan penuhkan nikmat-Ku kepadamu, dan meridhai untukmu Islam sebagai agamamu. Surah 5: al-Ma’idah Ayat 3 45. اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ، وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ، أَصْبَحْنَا وَأَصْبَحَ الْمُلْكُ لِلَّهِ، وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعاَلَمِيْنَ. 45. Ya Allah! sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Engkau, demikian pula di waktu petang, dan di kala hidup dan di kala mati, dan hanya kepada-Mu lah tempat kebangkitan, kami berada di waktu pagi sedang kekuasaan tetap berada bagi Allah Tuhan seru sekalian alam. Dari AbuDawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apabila bangun pagi, bacalah: “Ya Allah, sesungguhnya kami berada di waktu pagi bersama Tuhan seru sekalian alam. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini keterbukaannya, kemudahannya, cahayanya, keberkatanmya dan petunjuknya; dan perlindungan dari keaiban yang datang dengan nya dan sesudahnya.” Pada petang hari serupa juga. 46. اَللَّهُّمَ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذَا الْيُوْمِ فَتْحَهُ وَنَصْرَهُ وَنُوْرَهُ وَبَرَكَتَهُ وَهُداَهُ 46. Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, pembukaannya, kemudahannya, cahayanya, berkatnya dan petunjuknya. 47. اَللَّهُمَّ إِنَّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذاَ الْيُوْمِ، وَخَيْرَ ماَ فِيْهِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذاَ الْيُوْمِ وَشَرِّ مَا فِيْهِ. 47. Ya Allah aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, dan kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hari ini dan keburukan apa yang terdapat di dalamnya. 48. اَللَّهُمَّ ماَ أَصْبَحَ بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ أَوْ بِأَحَـدٍ مِنْ خَلْقِكَ، فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَى ذَلِكَ. 48. Ya Allah, nikmat yang aku terima di pagi ini, atau yang diterima oleh salah seorang dari hamba-Mu, maka sumbernya hanyalah Engkau semata, tiada sekutu bagi-Mu, bagi-Mu lah pujian dan kepada-Mu kami bersyukur atas semuanya itu. Dari Abu Dawud, diriwayatkan oleh Abu Malik; “Seorang bertanya Rasulullah s.a.w.: ‘Berilah kami suatu ayat yang boleh kami ulangi tiap pagi, petang dan apabila kami bangun dari tidur.’ Baginda suruh kami berdoa: “Ya Allah! Yang Mencipta Syurga dan dunia, Yang Mengetahui semua yang zahir dan batin, Engkaulah Tuhan sekian makhluk; para malaikat saksikan bahwa tiada tuhan selain-Mu, kami berlindung dengan-Mu dari keburukan diri kami dan dari bisikan syaitan yang menyekutukan Mu.” 49. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا) 49. Maha Suci Allah dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaanNya, sebanyak timbangan ‘ArsyNya dan sebanyak tinta untuk menulis kalimatNya. (3X) Diriwayatkan daripada Juwairiyah Ummil Mukminin r.a., bawahasanya Nabi s.a.w keluar dari rumahnya pada suatu pagi setelah habis sembahyang subuh sedang Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya (berzikir), apabila beliau kembali ke rumah setelah menunaikan shalat Dhuha, beliau dapati Juwairiyah masih di tempat sembahyangnya lagi, lalu beliau bertanya: Apakah engkau masih dalam keadaan seperti aku tinggalkanmu tadi? Maka berkata Nabi s.a.w.: Bila aku meninggalkanmu tadi aku telah mengucapkan empat kalimah sebanyak 3 kali, jika ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak awal hari tadi niscaya ia lebih daripada apa yang engkau ucapkan, iaitu wirid yang disambung dengan”sebanyak bilangan ……”. 50. سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِـهِ وَرِضَـى نَفْسِـهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِداَدَ كَلِمَاتِهِ. (ثلاثا) 50. Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan puji-pujian untukNya, sebanyak bilangan makhlukNya, sebanyak bilangan keridhaan-Nya, sebanyak timbangan ‘Arsy-Nya dan sebanyak bilangan kalimat-Nya. (3X) 51. سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَقَ فِي السَّمَـاءِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا بَيْنَ ذَلِكَ، سُبْحَـانَ اللهِ عَدَدَ مَا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا) 51. Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan Maha suci Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X) Diriwayatkan daripada Sa’ad bin Abu Waqqash r.a. bahawasanya dia bersama Rasulullah s.a.w. mendatangi seorang perempuan sedang pada kedua tangan perempuan itu ada biji (kurma) atau kerikil dihitungnya dalam tasbihnya, maka bersabda Rasulullah s.a.w.: Maukah engkau aku memberitahukan kepadamu sesuatu yang lebih mudah atau lebih utama buatmu? Lalu beliau menyambung dengan membaca wirid yang disambung seperti diatas ini . 52. اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اَلْحَمْدُ للهِ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا) 52. Segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya dan segala puji bagi Allah sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X) 53. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا) 53. Tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan tiada tuhan melainkan Allah, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X) 54. اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي السَّمَـاءِ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا خَلَـقَ فِي الأَرْضِ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِكَ، اللهُ أَكْبَرُ عَدَدَ مَـا هُوَ خَـالِقٌ. (ثلاثا) 54. Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan Allah Maha Besar, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X) Dalam Al-Muwatta', diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Barangsiapa yang membaca: “Tiada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tiada sekutu baginya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu” dalam sehari sebanyak seratus kali, nescaya dia mendapat pahala sebagaimana memerdekakan sepuluh orang hamba. Dia juga diampunkan seratus kejahatan, dibuat untuknya benteng sebagai pelindung dari syaitan pada hari tersebut hingga ke petang. Tidak diganjarkan kepada orang lain lebih baik daripadanya kecuali orang tersebut melakukan amalan lebih banyak daripadanya. Manakala mereka yang berkata: “Maha suci Allah dan segala puji hanya bagi Allah”, dalam sehari sebanyak seratus kali nescaya terhapuslah segala dosanya sekalipun dosanya itu banyak seperti buih di lautan . (i) Al-Habib Abibakar Sakaran di dalam Hizbnya telah mengatakan bahawa pengucapan, “Ya Allah, limpahkanlah kurnia dan kesejahteraan atas penghulu kami Nabi Muhammad dan atas keluarga dan sahabat-sahabatnya sekalian” ialah sebagai pintu menuju kepada Allah; dan kunci ke pintu itu ialah ucapan, “Tiada tuhan melainkan Allah”; dan pertahanannya ialah ucapan, “Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung” 55. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي السَّمَاءِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا خَلَقَ فِي الأَرْضِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَـا بَيْـنَ ذَلِـكَ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ الْعَظِيْـمِ عَدَدَ مَا هُوَ خَالِقٌ. (ثلاثا) 55. Tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di langit, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di bumi, tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya di antara keduanya, dan tiada kekuatan atau kuasa melainkan dengan izin Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sebanyak bilangan ciptaan-Nya. (3X) 56 لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ كُلِّ ذَرَّةٍ أَلْفَ مَرَّةٍ. (ثلاثا) 56Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, sebanyak bilangan zarah yang dicipta-Nya seribu kali. (3X) 57 لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَـى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عَدَدَ ماَ هُوَ خَالِقٌ. 57 Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kepunyaan-Nya lah Kerajaan, dan hanya bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya. وَ فِي بَعْض النسخ زيادة واختـلاف في هذه التسبيحـات الأخيرة، فمن شاء فليعمل بها. فكلها واردة. اهـ. وقد اختارها حفيد الْمؤلف الإمام علوي بن أَحْمد بن حسن الْحداد لأن الثابت في الأصل من هذه التسبيحات هو: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة)، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ (مائة مرة) سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَ اللهُ، وَ اللهُ أَكْبَرُ. (مائة مرة) (وَيَزِيدُ صَبَاحًا) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْـدَهُ لاَ شَرِيْـكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْـكُ وَلَهُ الْحَمْـدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ. (مائة مرة) فمن عمل بِها فهو الأكمل. اهـ

24/05/12

Kata-kata Bijak Yang Tidak Bijak

Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan penulis amatiran, adalah merangkai kata-kata. Kemampuan persuasi yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya aneh (koplak), terlihat bijak. Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga, yang kedengarannya muncul dari seorang bijak berjanggut yang sedang bersemedi di bawah pohon, lengkap dengan kicauan burung di latar belakang. Kata-kata bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin akan manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan berkaca-kaca sambil menghela napas panjang sambil membatin: "iya juga yaa.." Benarkah itu bijak? Mari senejak kita kritisi satu-persatu: “Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..” Wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan? Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja.. Toh kita tidak berhak menghakimi orang lain. Hanya Tuhan yang berhak. Jadi jika ada polisi yang coba mendenda kita karena buang sampah atau merokok sembarangan di Singapura, tampar saja si sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang berhak menghakimi saya!!” Jika kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili semua keburukan-keburukan manusia di dunia, kita tidak perlu hukum lagi, dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan manusia zaman batu pun punya peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman saya: “Lemah teles, Gusti Alloh seng mbales..” “Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele? Pornografi diributin, penulis buku yang mempromosikan lesbi dihalangin. Lady Gaga diributin. Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang lebih berbahaya bagi bangsa kita ini..” Wahh.. Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong sandal, tuh yang maling motor aja dikejar..”. Perbuatan buruk, besar atau kecil, tetap harus dihalangi. Jika orang tersebut menentang pornografi, bukan berarti dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah lebih baik kita menjaga dari keduanya. Katakan: "say no to pornografi dan korupsi! Dua-duanya", menurut saya, cepat atau lambat, akan menghancurkan negara ini. bahkan masyarakat barat sendiri pun cukup resah dengan pornografi, kok malah kita mendukungnya? “Tuhan itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika kalian membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian melecehkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..” Weleh, tunggu sebentar.. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama ini, dari agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk kepentingan para pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk mengurusi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan para penganutnya.. Jika organisasi tersebut bertujuan melindungi kepentingan para anggotanya, kenapa dituduh sedang berusaha membela Tuhan? Saya koq tidak ingat ada organisasi agama yang visi dan misi organisasinya adalah: “untuk membela Tuhan di muka bumi..” “Kenapa sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini? Padahal diam-diam doyan seks juga, suka melototin paha juga. Dasar otaknya aja yang kotor. Bersihin tuh otaknya, jangan urusin pakaian orang lain. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat, mau ada yang telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik dan sok suci deh..” Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka tidak doyan seks. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan hasrat kami. Kami tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan pasangan kami, dengan cara yang bertanggung jawab. Seks merupakan rahmat Tuhan, tapi nikmatilah secara bertanggung jawab. Jika kami memang maniak seks yang suka meniduri semua makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami dengan senang hati mendukung seks bebas. Itu berarti kami makin bebas meniduri berbagai macam wanita tanpa harus pusing mikirin pampers dan susu, karena, dengan menyebarnya paham seks bebas, makin banyak wanita yang bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian kami tinggalkan setelah puas. Otak kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu, maka sudah lama manusia punah. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak nafsunya jika melihat paha wanita. Jika ada lelaki yang dengan gagah berani bilang tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu hanya omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya dengan senang hati. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian (dan nafsu) para lelaki. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa menahan iman, tentu kami akan turun ke jalan untuk mendukung semua wanita memakai rok mini. Makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor kami. Jadi, siapakah yang berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman? Para lelaki yang menentang rok mini, atau pendukungnya? Para penentang seks bebas, atau pendukungnya? Nah lhoh???